BLITAR – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mempertegas posisinya dalam menyikapi dinamika geopolitik internasional, terutama konflik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah. Partai berlambang banteng moncong putih ini menyatakan akan terus berpegang teguh pada prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif, selaras dengan mandat Pembukaan UUD 1945.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, setelah mendampingi Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam agenda ziarah di Makam Bung Karno, Kota Blitar. Hasto menggarisbawahi bahwa kedaulatan negara adalah harga mati yang tidak boleh diintervensi oleh kekuatan manapun.
Menjaga Kedaulatan Bangsa di Tengah Arus Global
Hasto menekankan bahwa Indonesia harus berdiri tegak di atas prinsip dasar negara. Menurutnya, konstitusi telah memberikan panduan yang jelas bahwa kemerdekaan merupakan hak asasi setiap bangsa yang wajib dihormati di panggung dunia.
“Prinsip kita jelas, kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Tidak ada satu pun negara yang boleh mengabaikan hak tersebut melalui tindakan sepihak. Negara harus berdaulat penuh, dan pemerintah wajib berdiri kokoh mempertahankan prinsip ini,” ujar Hasto kepada awak media, Minggu (30/3/2026).
Lebih lanjut, Hasto menegaskan konsistensi PDIP dalam menentang segala bentuk aksi yang mencederai kedaulatan negara lain, termasuk tindakan yang melibatkan kekuatan-kekuatan negara adidaya (super power). Ia menilai, Indonesia harus tetap menjadi jembatan perdamaian yang tidak memihak pada blok kekuatan tertentu, namun tetap aktif menyuarakan keadilan internasional.
Dialog Strategis Megawati dan Presiden Prabowo
Dalam kesempatan yang sama, Hasto juga membeberkan sedikit bocoran mengenai pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan tersebut disebut berlangsung dalam suasana hangat dan sarat akan pembahasan mengenai isu-isu strategis.
Selain membahas persoalan internal bangsa, kedua tokoh nasional tersebut juga mendiskusikan tantangan geopolitik dunia yang kian kompleks. Hasto menyebut adanya ruang dialog yang konstruktif dalam pertemuan tersebut.
“Ibu Megawati berbagi perspektif dan pengalaman beliau saat menakhodai Indonesia di tengah krisis multidimensional. Di sisi lain, Presiden Prabowo sangat terbuka dalam menjalin komunikasi. Mereka membahas masa depan bangsa serta bagaimana posisi Indonesia di tengah carut-marut geopolitik global saat ini,” pungkas Hasto.