Kota Malang – Suasana tempo dulu terasa hidup di Kelurahan Arjosari, Kota Malang, Kamis (14/5/2026). Warga mengenakan pakaian lawas, lorong kampung dihiasi nuansa klasik, sementara puluhan pelaku UMKM memadati kawasan Kampung Semar Tempo Doeloe yang resmi dibuka langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat.
Kehadiran Wahyu Hidayat menjadi perhatian warga. Orang nomor satu di Pemerintahan Kota Malang itu tampak antusias menyusuri kawasan kampung tematik yang tahun ini mengusung tema Lorong Waktu. Ia bahkan mengaku kagum dengan kreativitas warga yang total menghadirkan suasana khas masa lampau.
“Tahun lalu saya lihat ada becak, dan semoga kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat terkhususnya meningkatkan ekonomi,” ujar Wahyu Hidayat saat membuka kegiatan.
Menurut Wahyu Kampung Semar Tempo Doeloe bukan sekadar festival tahunan biasa. Event ini berkembang menjadi ruang pemberdayaan ekonomi warga sekaligus panggung budaya masyarakat Kota Malang.
“Tahun ini, atmosfer kegiatan terasa lebih meriah karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Malang, Hari Pendidikan Nasional, dan HUT Kampung Semar,” ungkapnya.
Ketua Pelaksana Kampung Semar Tempo Doeloe, Dina Alrasyid, mengatakan tema Lorong Waktu dipilih untuk membawa masyarakat kembali mengenang suasana masa lalu sekaligus memperkuat identitas budaya kampung.
“Kampung Semar tahun ini menjadi istimewa karena dibarengi HUT Kota Malang, Hari Pendidikan Nasional dan HUT Kampung Semar serta mengusung tema Lorong Waktu,” katanya.
Lorong-lorong kampung disulap menjadi spot bernuansa vintage. Warga mengenakan pakaian tradisional dan busana jadul, sementara dekorasi lawas dipasang di berbagai sudut kampung. Pengunjung juga disuguhkan beragam kuliner tradisional hingga pertunjukan budaya yang membuat suasana semakin hidup.
“Tak hanya mengandalkan konsep budaya, Kampung Semar Tempo Doeloe juga membawa misi penguatan ekonomi warga. Sebanyak 31 pelaku UMKM turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menariknya, seluruh UMKM yang terlibat disebut sudah mengantongi sertifikat halal,” bebernya.
Dina menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong ekonomi masyarakat berbasis kampung tematik dan pemberdayaan warga.
“Kampoeng Semar Tempoe Doeloe dimeriahkan 31 UMKM yang sudah bersertifikat halal selain agenda tahunan yaitu agenda bulanan seperti pasar Islam. Kegiatan itu sebagai peningkatan ekonomi warga dan ketahanan pangan,” jelasnya.
Ia berharap Kampung Semar dapat terus berkembang menjadi pusat kreativitas masyarakat sekaligus ruang pelestarian budaya lokal di Kota Malang. Menurutnya, kekuatan utama kegiatan ini lahir dari semangat gotong royong warga yang terus menjaga kekompakan setiap tahun.
“Saya harap Kampung Semar dapat terus tumbuh menjadi ruang kreativitas masyarakat dan kebudayaan. Kami menyadari acara ini jauh dari kata sempurna, namun dengan semangat gotong royong kegiatan ini dapat berjalan,” ungkap Dina.
Ia juga berharap Pemerintah Kota Malang terus memberikan dukungan agar Kampung Semar mampu berkembang menjadi destinasi wisata budaya berbasis masyarakat.
“Saya berharap juga Kampung Semar di RT 2 RW 6 selalu di-support Pak Wali Kota Malang,” papar dia.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sejak pagi, pengunjung mulai memadati kawasan kampung untuk menikmati suasana jadul yang jarang ditemui di tengah modernisasi kota. Banyak warga memanfaatkan momentum itu untuk berfoto di spot-spot klasik sambil menikmati kuliner khas tempo dulu.
“Kehadiran Kampung Semar Tempo Doeloe dinilai menjadi bukti kekuatan budaya lokal masih memiliki daya tarik besar ketika dikemas secara kreatif. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi peluang nyata bagi UMKM untuk berkembang dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” urainya.
Wahyu mengungkapkan Pemerintah Kota Malang sendiri terus mendorong lahirnya kampung-kampung kreatif berbasis budaya dan ekonomi kerakyatan.
“Konsep seperti Kampung Semar dinilai mampu menghidupkan potensi lokal sekaligus memperkuat identitas Kota Malang sebagai kota kreatif dan wisata budaya,” tukasnya.
tags
Kampung Semar Tempo Doeloe, Wahyu Hidayat, Kota Malang, Kelurahan Arjosari, UMKM Malang, Wisata budaya Malang, Lorong Waktu, Kampung tematik, Ekonomi warga, Festival tempo dulu

