Buka Malang Fashion Runway #7, Wahyu Hidayat Dorong Industri Fesyen Lokal Naik Kelas

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat menghadiri Malang Fashion Runway (MFR) #7 yang digelar di Grand Hall Malang Town Square (MATOS), Sabtu (11/7/2026). (foto: prokopim)
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat menghadiri Malang Fashion Runway (MFR) #7 yang digelar di Grand Hall Malang Town Square (MATOS), Sabtu (11/7/2026). (foto: prokopim)

MALANG – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menghadiri Malang Fashion Runway (MFR) #7 yang digelar di Grand Hall Malang Town Square (MATOS), Sabtu (11/7/2026). Berlangsung selama dua hari, 11–12 Juli 2026, ajang tahunan bertema Fantastica ini menjadi panggung bagi insan kreatif untuk menampilkan karya sekaligus memperkuat industri fesyen dan ekonomi kreatif Kota Malang.

Tahun ini, Malang Fashion Runway menghadirkan koleksi dari 56 desainer fesyen yang diperagakan oleh 32 model profesional dan 400 model anak. Beragam penampilan spesial turut memeriahkan acara yang mempertemukan desainer, model, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas kreatif, akademisi, serta pecinta fesyen tersebut.

Dalam sambutannya, Wahyu mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Malang Fashion Runway yang dinilai tidak hanya menjadi wadah kreativitas dan apresiasi seni, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan industri kreatif di Kota Malang.

“Ajang ini tidak hanya menjadi panggung kreativitas dan apresiasi seni dalam bidang fashion, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk membangun serta menguatkan industri kreatif di Kota Malang,” jelasnya.

Menurut Wahyu, perkembangan industri fesyen mencerminkan kreativitas masyarakat yang terus tumbuh seiring dengan berkembangnya Kota Malang sebagai ruang bagi industri kreatif dan UMKM. Subsektor fesyen memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, didukung kehadiran desainer muda berbakat, pelaku UMKM fesyen, serta komunitas kreatif yang terus berinovasi.

Ia menambahkan, predikat Kota Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO bidang Media Arts menjadi modal untuk mengembangkan berbagai subsektor ekonomi kreatif, termasuk industri fesyen. Kreativitas yang dihasilkan diharapkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga nilai ekonomi dan daya saing yang kuat.

“Kreativitas yang tumbuh di Kota Malang harus terus kita dukung agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga bernilai ekonomi dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” urainya.

Mengusung tema Fantastica, MFR #7 menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai elemen industri fesyen untuk saling terhubung dan mengembangkan potensi. Selain menampilkan karya desainer, kegiatan ini membuka peluang promosi yang lebih luas bagi produk fesyen lokal agar semakin dikenal masyarakat.

Wahyu menegaskan, penyelenggaraan Malang Fashion Runway juga sejalan dengan program Dasa Bakti Unggulan Kota Malang, yakni Ngalam Laris, yang berfokus pada pemberdayaan UMKM dan pengembangan produk kreatif lokal.

“Saya memandang kegiatan ini sejalan dengan misi unggulan Dasa Bakti ‘Ngalam Laris’. Konsep ini kami hadirkan untuk pemberdayaan UMKM dan produk unggulan kreatif sehingga Malang Fashion Runway menjadi platform penting bagi para pelaku kreatif serta UMKM untuk mempresentasikan dan mempromosikan produk-produk maupun karya mereka,” imbuhnya.

Ia berharap MFR dapat membantu memperluas pasar produk lokal Kota Malang sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya para pelaku industri fesyen. Dengan semakin berkembangnya industri kreatif, perputaran ekonomi daerah diharapkan semakin meningkat dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

“Saya berharap, melalui ajang ini, produk-produk lokal dapat lebih dikenal dan dihargai sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan demikian, kita dapat membantu perputaran roda ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Malang,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Wahyu mengajak para desainer, model, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif untuk terus menjadikan Malang Fashion Runway sebagai ruang kolaborasi, eksplorasi, serta inovasi dalam meningkatkan daya saing industri fesyen.

“Mari bersama kita wujudkan Malang sebagai pusat industri kreatif yang semakin maju dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan MFR #7, Kota Malang diharapkan semakin memperkuat ekosistem industri fesyen yang melibatkan kreativitas, promosi produk lokal, dan pemberdayaan UMKM. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan mampu membuka peluang usaha, memperluas jangkauan pasar, serta memperkuat posisi produk kreatif Kota Malang di tingkat nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *